Loading the content... Loading depends on your connection speed!

Pemerintah mendesak Nekad menerapkan standar baru dan “membunuh” pesantren, sementara kasus Covid-19 tetap tinggi.

In: Nasional

Reporter Tribunnews.com Seno Tri Sulistiyono

Jakarta TRIBUNNEWS.COM-Ketua GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengatakan bahwa jika dia ingin mengadopsi normals baru atau standar baru, pemerintah perlu memastikan bahwa kasus Covid-19 di Indonesia ditolak. Tatanan hidup. — Menurutnya, penerapan standar baru di hadapan banyak kasus Covid-19 akan berdampak negatif pada siswa yang belajar di pondok pesantren. Yaqut mengatakan dalam obrolan virtual yang diadakan di Jakarta, Rabu (27/5/2020).

Baca: Huawei meminta Samsung untuk meminta pasokan chip agar dapat bertahan dari tekanan darah tinggi di Amerika Serikat? Temukan penjelasan berikut-Yaqut menjelaskan bahwa di Indonesia, ada sekitar 28.000 pes dan jumlah Santri mereka mencapai 18 juta pes.

Dimana tempat yang rentan dalam penyebaran Covid-19 dan dapat menjadi pusat gempa baru.

“Karena apa? Petani rata-rata sangat sederhana. Satu ruangan dapat menampung 10-20 anak. Bayangkan mereka tidak dapat menjaga jarak sebagai syarat untuk memperlemah penyebaran Covid-19.” Penjelasan.

Baca: Jawa Tengah Polisi distrik mabuk di kepala polisi Lembang, menewaskan dua orang.

Baca: Kasus 5: Pria yang memperkosa seorang gadis berusia 18 tahun bergiliran: Rudapaksa Divideokan populer di aplikasi pengiriman pesan. Selain itu, Yaqut mengatakan bahwa, rata-rata, wadah besar digunakan untuk menampung air alih-alih mandi dengan air keran. Bisa ditimbang. Jacquette mengatakan: “Ini harus dipertimbangkan oleh pemerintah petani yang menghilangkan petani, karena jika kondisi baru diadopsi, situasi saat ini akan memiliki pusat gempa baru.”

By: admin
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CommentName required Email required Website

Back to top