Loading the content... Loading depends on your connection speed!

KPK menahan Hong Arta sehubungan dengan kasus korupsi proyek Arthur UPPR

In: Nasional

Reporting Tribunnews.com reporter Ilham Rian Pratama

Jakarta TRIBUNNEWS.COM – Komite Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya menangkap JECO Group PT Sharleen Raya Direktur dan Komisaris Hong Arta John Alfred. Dia ditahan pada tahun 2016 atas dugaan korupsi karena memberikan hadiah atau janji terkait dengan pelaksanaan pekerjaan proyek kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan (PUPR).

Dia diangkat sebagai tersangka kriminal pada 2 Juli 2019.

Baca: Dana Korupsi Proyek Hong Arta dalam Gerakan KPK Departemen UPPR

Hong Arta ditahan di cabang KPK dari Pusat Penahanan Kelas Satu di Jakarta Timur dari 27 Juli 2020 hingga 15 Agustus 2020 Setelah 20 hari, Wakil Ketua KPK Lili Pintauli S iregar mengatakan: “Sebelum ditahan, HA yang dicurigai telah menjalani pemeriksaan kesehatan untuk meringankan penyebaran wabah Covid 19. Tim Merah KPK di Jakarta, Senin (27/7/2020) Dalam jumpa pers yang digelar Gedung Putih.

Hong Arta merupakan tersangka ke-12 dalam PUPR proyek pembangunan jalan Kementerian pada tahun anggaran 2016.

KPK sebelumnya telah menjaring 11 tersangka Menurut undang-undang.Kamera setelah inspeksi KPK, Hong Arta: Saya bukan penjahat nasional-dalam kasusnya, komisaris dan direktur utama Grup PT Sharleen Raya JECO diduga kuat menyediakan atau menjanjikan pegawai administrasi nasional, yaitu, implementasi jalan nasional Kepala BPJN IX Maluku dan Maluku Utara Amran HI Mustary.-Hongata diduga menyumbang 10,6 miliar rupiah, sumbangan ini disumbangkan pada tahun 2015.

Selain itu, diyakini bahwa Hung Alta telah menyumbangkan Rp 1 miliar untuk Damayandi Wisnu Putranti dari PDIP pada tahun 2015 sebagai anggota DPR. — Baca: KPK mengingatkan tersangka Hong Arta untuk menjawab telepon Senin depan

Perilaku Hong Arta diduga melanggar Pasal 5 (1) a atau b atau Pasal 13 UU No. 31 tahun 1999 Perubahan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, Pasal 1, Ayat 55, Ayat 55 (1) KUHP-Dalam hal ini, Amran divonis 6 tahun penjara karena menerima 2,6 rupee, dan Dihukum 4 bulan penjara dan denda 800 juta rupee. 1 miliar rupee, 155.250 crore rupee dan 202.816 dolar Singapura. -Selain itu, Damayandi juga divonis 4,5 tahun penjara dan 3 karena menerima 278.700 dolar Singapura dan 1 miliar rupee. Penjara 500 juta rupee sebulan.

By: admin
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CommentName required Email required Website

Back to top