Loading the content... Loading depends on your connection speed!

Kisah Haedar Nashir (Haedar Nashir) telah menjadi jurnalis selama 10 tahun, setahun dengan penyakit tifus

In: Nasional

Jakarta, TRIBUNNEWS.COM-Betapa sulitnya menjadi jurnalis.

Saat Anda menerima laporan tertulis, bacalah sekilas, gores dengan tinta merah, lalu gulung dan buang ke tempat sampah. Sebelum menjadi editor majalah tertua di Indonesia “Suara Muhammadiyah”, Nashir mengenang sepuluh tahun (1985-1995) sebagai jurnalis. Menulis sebuah cerita. Sampai seringkali kita yakin bisa menulis dengan baik, kemudian kita menandainya dengan tinta merah seperti reporter lama. Saat perasaan kita terkoyak, kesombongan kita juga terkoyak, “kenang Haedar Nashir dalam webinar terbitan Journalist Proficiency Test Institute. Universitas Muhammasiyah di Jakarta memutarnya di aplikasi Zoom dan menunjukkannya. Tayang di kanal Youtube tvMU, Senin (10/5/2020).

Di awal kejadian, Haedar Nashir mengaku juga mengalami cedera.

Namun seiring berjalannya waktu, balapan berangsur-angsur berubah menjadi perubahan. Menjadi jurnalis yang lebih fleksibel dan profesional. Naik bus, angkot, kereta bahkan jalan kaki.

“Dari tahun 1985 hingga 1995, saya menjalani proses ini. Saat itu saya belajar menulis, dan sutradaranya saat itu adalah jurnalis kenamaan Pak Ajib Hamzah, budaya Yogyakarta “, ungkapnya. Perjalanan yang panjang. Lanjutnya. -Baca: Haedar Nashir: Komitmen dan refleksi Jakob Oetama akan memajukan Indonesia Kemajuan berpikir-Membaca: Review Malik Fadjar, Haedar Nashir: Kegigihan dan kerendahan hati semua orang-Saat itu, Haedar Nashir masih menggunakan mesin ketik, bukan komputer, laptop atau bahkan smartphone.

By: admin
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CommentName required Email required Website

Back to top