Loading the content... Loading depends on your connection speed!

Nilai penggunaan fasilitas bea cukai sebelum ekonomi nasional pulih

In: Bea Cukai

TRIBUNNEWS.COM-Memasuki masa pemulihan ekonomi nasional, pemerintah terus bekerja keras untuk menstabilkan dampaknya terhadap pertumbuhan dan kesejahteraan.

Selama pandemi Covid-19, Kementerian Keuangan memberikan layanan melalui bea cukai dan pajak konsumsi. Berbagai insentif finansial dan prosedural untuk memulihkan penurunan kinerja ekonomi akibat dampak virus corona, dan dukungan kepada dunia usaha agar tidak semakin terpuruk.

Sesuai tanggal 2 Juni 2020 Data tersebut telah memberikan kemudahan perpajakan impor komoditas untuk penanggulangan Covid-19. Total nilai impor adalah Rp 3.848.141.994.004,75 (Rp 3,84 triliun), dengan produk terbesar adalah masker, dan impor dari berbagai negara sebesar 133.140, 117 buah. — Fasilitas yang digunakan importir antara lain program subsidi komoditas dari yayasan / lembaga. Tanggung jawab sosial (PMK70), impor barang pemerintah pusat / daerah (PMK 171), penanggulangan Covid-19 sesuai surat terlampir (PMK 34), dan non instalasi. Bentuk sistemnya adalah pembebasan bea masuk (BM) dan pajak konsumsi, tidak termasuk PPN dan PPnBM, serta pembebasan impor PPh 22. Total pembebasan pajak dari tanggal 13 Maret sampai dengan 2 Juni 2020 mencapai Rp.848.000.065.722 (Rp.848 miliar), dimana rincian informasi penyisihan BM adalah Rp.390.522.910.569, belum termasuk nilai tambah Rp.282.157.292.481 Pajak dan PPnBM, serta dibebaskan dari ketentuan PPh 22 sebesar Rp 175.319 862.672.

Selain itu, berdasarkan Surat Keterangan Skema Asal (SKA), fasilitas impor juga diberikan kepada negara mitra ASEAN. Dibandingkan dengan total impor valas pada tahun 2020, rata-rata volume impor yang menggunakan SKA sekitar 33% atau terhitung sekitar 52,37% dari total nilai valas yang diimpor menggunakan SKA. Impor pangan yang termasuk dalam 10 produk yang diimpor melalui SKA adalah gula dan kembang gula dari ASEAN (tabel D), Australia (tabel AANZ), China (tabel E) dan India (tabel AI). Terkait fasilitas, pihak bea cukai juga memberikan kondisi relaksasi bagi perusahaan melalui fasilitas kawasan berikat (KB) dan fasilitas impor (KITE) untuk ekspor. Sejak 1 April hingga 27 April 2020, total nilai kredit pajak yang diberikan dalam bentuk pengurangan pajak berdasarkan insentif pajak mencapai Rp882.637.858.209 (Rp882,63 miliar). — Di bidang pajak konsumsi, disediakan kemudahan bebas pajak. Bahan baku ethanol digunakan untuk mengatasi Covid-19, terutama sebagai bahan dasar pembuatan hand sanitizer dan disinfektan. Per 1 Juni 2020, total ethanol yang mendapat fasilitas pembebasan cukai adalah 82.616.950 liter atau Rp 1,652 miliar, penerima manfaat dari instalasi tersebut adalah komponen komersial (19,41%) dan nonkomersial (53,55%)) . Kemudian, terhitung sejak 31 Mei 2020, 82 pabrik juga telah mengajukan peraturan pelonggaran pajak cukai dan produksi rokok.Pabrik-pabrik tersebut telah menyerahkan dokumen penangguhan pajak cukai 90 hari dengan total nilai cukai sebesar Rp 18,1 triliun. Delapan pabrik rokok Tipe I (Rp1,4 miliar), 67 pabrik rokok Tipe II (3,3 triliun USD), dan 7 pabrik rokok Tipe III (0,019 triliun USD). – Bea cukai berkomitmen untuk melayani masyarakat sepanjang waktu Serta memberikan berbagai fasilitas dan relaksasi selama pandemi Covid -19 untuk memudahkan dan terus menjalankan fungsi pengawasan guna melindungi masyarakat dari barang berbahaya dan ilegal.

Untuk pengguna layanan dan publik yang membutuhkan informasi lebih lanjut, mereka tidak dapat menghubungi Pusat Kontak Bea Cukai 1500225 (obrolan web waktu nyata di bit.ly/bravobc) atau melalui media sosial @beacukairi. (*)

By: admin
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CommentName required Email required Website

Back to top